Notification

×

Indeks Berita

Mengenal Satu Lagi Atlet Taekwondo Junior Berprestasi Asal Desa Buwun Mas Sekotong Lombok Barat.

November 16, 2022 | Rabu, November 16, 2022 WIB Last Updated 2022-11-16T05:19:01Z
Para atlet taekwondo junior asal Desa Buwun Mas.

Kimsekotong,-Ada satu lagi bocah berprestasi dibidang taekwondo asal Desa Buwun Mas Kecamatan Sekotong Kabupaten Lombok Barat yang luput dari pemberitaan media.Namanya Reygen Mumek yang merupakan sepupu dari Fernando Reigen Mumek(Nando) atlet Taekondo Cilik asal Buwun Mas yang sebelumnya diberitakan juga oleh KIM Sekotong.


Reyjen belum pernah diberitakan sama sekali karena pembawaanya yang pendiam dan pemalu.Bocah kelahiran tahun 2014 ini pernah berlomba pada TWF CUP 3 di Praya Lombok Tengah.


Karena prestasi tersebut sebenarnya Reyjen mempunyai kesempatan besar untuk bertanding di Bali bulan lalu, tetapi karena kendala biaya dan akomodasi yang ditanggung oleh atlet,maka kepergiannya ke Bali yang merupakan keinginan besarnya itu dihentikan oleh keadaan ekonomi keluarganya.


Ibunya yang sehari hari hanya penjual donat dan makanan home made lainnya dengan untung yang sedikit, menggaet pelanggannya dengan sistem COD tentu membuat biaya produksi makanan yang dibuatnya meningkat. 


Reyjen mengerti keadaan kedua orang tuanya yang tidak mampu membiayai perjalanannya ke Bali dan memilih tidak pergi meskipun sebagai juara pertama pada kompetisi tingkat kabupaten tersebut. “Ga apa-apa saya ga jadi pergi, yang penting papa mama ga kesusahan” katanya seperti yang diceritakan ibunya saat salah satu kontributor KIM mewawancarainya.

Dengan sikap polosnya itu membuat bapak dan ibunya berjuang lebih keras sebulan belakangan ini, agar bisa ikut pada Pertandingab Kapolri Cup di jakarta yang akan diadakan bulan nopember ini. “Bapak kan sering liat saya bolak balik antar makanan, kalau menemani reyjen latihan, bawaan saya paling banyak, maklum sambil COD (Cash On Delivery-Red)” cerita ibunya.


Setelah kejadian gagalnya reyjen berangkat ke Bali karena tidak adanya biaya, orang tuanya semakin bersemangat mencari rezeki, bahkan bapaknya reyjen pergi ke luar daerah mencoba peruntungan di pertambangan luar daerah.


Namun karena hanya lulus SMP, dia sadar tidak mungkin bisa mendapatkan uang tanpa bekerja keras, tetapi lagi-lagi di luar daerah pun tidak semulus yang dibayangkannya, karena pertambangan masih belum mendapatkan Izin Pertambangan Rakyat akhirnya dia kembali dengan tangan kosong, aparat menutup tambang tujuannya tersebut. 


Reyjen tidak kehilangan harapan, orang tuanya masih bersemangat, ibunya dengan usaha donat dan kulinernya semakin giat menjajakkan barang dagannya, mengantar barang semakin jauh, kadang sampai pulang malam dan tak jarang hujan-hujanan bersama adiknya reyjen yang baru berusia 3 tahun.


“Saya semakin giat mencari uang, tidak peduli malam, panas, hujanpun saya terobos demi mengumpulkan uang untuk biaya Reyjen latihan atau kalunada pertandingan seperti sekarang ini”. Kata Nila, ibu kandungnya reyjen. 


“Saya ga sanggup melihat kekecewaan di wajah anak saya karena tidak bisa ikut kompetisi seperti di bali waktu itu, reyjen mungkin memaklumi keadaan kami, tetapi setiap orang tua menginginkan kebahagiaan anaknya meskipun mengorbankan dirinya sendiri”. Tambahnya, seperti ada bulir bening yang tertahan di ujung matanya. 


Saat kontributor KIM menanyakan langsung ke reyjen kesiapannya mengikuti Kejurnas Kapolri Cup 4, siswa kelas 3 SDN 1 Buwun Mas ini dengan tegas mengatakan akan menunjukkan yang terbaik, meskipun ditengah keterbatasan “saya siap memenangkan kejuaraan, biarpun sepatu yang saya pake belum bisa diganti mama, mau cari untuk biaya ke jakarta dulu”. Ungkapnya malu-malu. 


Bersama Nando yang mendapatkan juara pertama pada Kejuaraan Provinsi di Bali bulan lalu, ia akan berangkat membawa nama Provinsi NTB harum di kancah Nasional pada Kapolri Cup 4, 17-20 Nopember  2022 .

Meskipun reyjen belum pernah disorot oleh media tetapi prestasinya bersinar terang membuat takjub banyak orang yang mengenalnya. Keinginan dan cita-citanya melebihi ukuran tubuh dan usianya, ia tidak merasa sendiri meskipun pejabat-pejabat tak mengenalnya sebagai atlet cilik taekwondo asal Buwun Mas Sekotong, ia masih punya keluarga yang akan mendukung impian dan cita-citanya. 


Ada satu pelajaran berharga dari bocah pemalu ini mengapa dia memilih Taekwondo saat anak-anak sebayanya memilih sepak bola, “Saat saya kalah, maka yang jelek namanya adalah saya seorang diri, tetapi berbeda dengan sepak bola, jika saya kalah maka yang disebut adalah kekalahan Buwun Mas atau Sekotong”. Ucapnya. (SA)

×
Berita Terbaru Update