Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Wisata Sejarah Situs Batu Mapah Di Sekotong Yang Konon Sebagai Tempat Pemandian Raja Tawun.

April 04, 2022 | Senin, April 04, 2022 WIB Last Updated 2022-08-13T10:55:50Z

Legenda Batu Mapah Tempat Pemandian Datu Tawun.

Air Terjun Batu Mapah Tawun Sekotong

KIM,-Wisata Sejarah Situs Batu Mapah Di Sekotong Lombok Barat baru baru ini viral di media sosial,beberapa akun media sosial terutama facebook mengunggah foto sebuah tempat yang konon bernilai sejarah dan di sakralkan oleh penduduk sekitar. Karena penasaran dengan keberadaan tempat tersebut,KIM Sekotong mencoba mencari informasi tentang tempat ini yaitu Situs Batu Mapah yang konon merupakan tempat pemandian seorang raja (Datu:Sasak) yang bernama Datu Tawun.

Pada Hari Selasa,25 Agustus 2020,KIM Sekotong berkunjung ke wisata sejarah situs Batu Mapah.Lokasinya tidak terlalu sulit untuk di jangkau.Jaraknya pun cukup dekat dari Dermaga Tawun Desa Sekotong Barat.Setelah menghubungi kadus setempat sebagai pemandu dan menyiapkan narasumber.Tim melewati sebuah gang yang cukup lebar dan bersih,dari dermaga tawun menuju ke arah Selatan.Kira kira sekitar 50 meter jaraknya dari jalan Raya tawun menuju pelangan.Jaraknya cukup dekat dari Kantor Desa Sekotong Barat.

Setibanya di situs Batu Mapah,terlihat sebuah pohon beringin yang cukup besar dengan akarnya yang menjuntai.Dari hasil bincang-bincang dengan sang pemandu,berikut dikisahkan tentang legenda pemadian Batu Mapah yang konon pada zaman dahulu,masyarakatnya mayoritas penganut agama budha.

Pada zaman kerajaan Selaparang Lombok,Sang Raja memilik putra mahkota yang bernama Datu Tawun.Datu Tawun dikisahkan memiliki  dua istri yang berbeda keyakinan,yaitu beragama Hindu dan Islam.Pada saat itu,Datu Tawun memiliki dua orang anak,yaitu dari sang istri yang beragama Hindu terlahir seorang putra bernama Brahmana Agung,sedangkan dari isterinya yang beragama Islam,lahir seorang putri yang dinamakan Dewi Anjani.Pada saat itu,kedua istri Datu Tawun di fitnah,sehingga mereka di buang masing-masing ke  gunung yang tinggi untuk berdiam diri.Sang istri beragama Hindu bersama anaknya di buang ke gunung agung,sedangkan istri Datu Tawun dan anaknya yang beragama Islam di buang ke Gunung Rinjani.

Jalan menuju situs Batu Mapah

Dan pada saat itu,Datu Tawun pergi mengembara kesalah satu gubuk atau kampung yang belum dikenal oleh sang raja yang bernama Datu Tawun. Dan sang raja kemudian memutuskan untuk berdiam dan beristirahat bersama para pengawal di kampung tersebut.Sang Raja kemudian melakukan acara sakrar /religius yaitu membuat tempat memasak menggunakan 3 buah batu yang sangat besar,( Batu yang digunakan untuk memasak tersebut kemudian dinamakan "batu jangkih"atau batu tungku).

Karena pada saat itu kampung ini sangat tandus dan kering dan tidak terlihat sumber mata air untuk bisa melanjutkan acara ngeme ( memasak) sehingga sang raja datu tawun bergeser untuk mencari mata air dengan menggunakan sebilah keris pusaka andalan dan di tancapkan ketanah.Lalu dengan setika air itu keluar dan menjadi tempat sumber mata air.

Disanalah Datu Tawun mengambil air dan mandi setiap hari dan bisa melanjutkan acara ngeme dan di lanjutkan dengan acara makan bersama ( medaran/medhar/begibung.Sasak:red),tempat mengambil tersebut kemudian bernama "aik dahar" yang artinya air yang digunakan untuk makan.Ditempat ini,konon pada zaman itu datu Tawun menghilang bagaikan di telan ombak.sehingga dari peninggalan datu Tawun sangat masih  di kenang dari masyarakat Budha sehingga pemandian datu Tawun di beri nama Batu Mapah yang artinya "papah" atau berderetan dengan batu jangkeh dan aik dahar. Konon kampung ini kemudian dinamakan Kampung Tawun yang terletak di Desa Sekotong Barat Kecamatan Sekotong Kabupaten Lombok Barat. 



     

×
Berita Terbaru Update