iklan

Marlina,Pegiat Anti KTPA/PPA Sekotong Yang Pantang Menyerah.

Marlina,Aktivis peduli perempuan dan anak dari sekotong. 

KIM,-Berbicara tentang kiprah perempuan yang mau mengabdikan dirinya sebagai aktivis perlindungan perempuan dan anak (PPA),tentu bisa dihitung dengan jari.Sebab,menjadi seorang aktivis membutuhkan kesediaan untuk berbagi waktu,tenaga dan fikiran.Sehingga bagaimana kemudian kelompok rentan yang bernama anak dan perempuan,mendapatkan haknya yang layak sebagai warga negara Indonesia.

Menjadi seorang wanita pegiat perlindungan perempuan dan anak di Kecamatan Sekotong Kabupaten Lombok Barat,merupakan pilihan dari Marlina.Demikian nama aktivis perempuan yang lahir di Dusun Kelep Desa Taman Baru 31-12-1988 ini."Saya terlibat sebagai pegiat perlindungan perempuan dan anak sejak tahun 2017.Saya diajak teman dari Yayasan Tunas Alam Indonesia (Santai) NTB,"ucap Marlina mengawali penuturannya kepada KIM Sekotong.Minggu (5/12/2021).

Meskipun memiliki latar belakang sebagai seorang ibu rumah tangga,tidak menyurutkan langkah Marlina dalam perjuangan pemenuhan hak perempuan dan anak di desanya.Suara-suara lantangnya kerap kali terdengar di berbagai forum.Sosok perempuan anak tiga ini,memang dikenal cukup vokal menyuarakan pendapatnya tentang perempuan dan anak.Hal itu dikarenakan berbagai kegiatan pelatihan dan advokasi yang ia ikuti bersama yayasan Santai NTB.

"Sebelum saya terjun sebagai pegiat peduli perempuan dan anak di tingkat desa,saya sedih dengan banyaknya angka perkawinan usia anak di desa saya.Namun setelah mengikuti berbagai kegiatan advokasi,saya merasa  harus menjadi pelopor dan pelapor agar perkawinan anak di desa saya bisa berkurang.Dan saya juga berharap agar bisa menurunkan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak,"ujar ibu rumah tangga yang sehari-hari berdagang kecil-kecilan ini.

Marlina bukan perempuan biasa dalam aksi-aksi sebagai pegiat perlindungan perempuan dan anak. Didukung pengetahuan dan pengalaman menangani kasus-kasus perkawinan usia anak.Ia juga pernah mengikuti pelatihan  KTPA dan PA,Pelatihan pelopor dan pelapor,pelatihan advokasi,pelatihan kesetaraan gender,pelatihan kepemimpinan perempuan dan kelompok muda dalam pembangunan,pelatihan pengorganisasian dan partisipasi masyarakat dalam pencegahan KTPA, penyusunan peraturan deda, perlindungan perempuan dan anak dalam situasi bencana,pelatihan kespro,pelatihan PUP.dll.

Pelatihan dan advokasi tersebut ia ikuti di daerah hingga luar daerah.Baru saja ia pulang dari Makassar dalam kegiatan yang ia geluti selama ini.

Adapun kegiatan lain yang ia lakukan yaitu sosialisasi dan membangun komitmen bersama pemerintah desa tentang stop KTPA.Ia juga rutin melakukan sosialisasi ke sekolah dan posyandu.Mengadakan pelatihan pengarus utamaan gender, penelitian tentang perkawinan anak dan pelatihan tentang menggunakan media sosial yang aman dan baik.

Selain itu,Marlina juga aktif sebagai pengurus Komunitas Peduli Perempuan dan Anak Desa (KPPAD) dan Forum Anak Desa (FAD) Desa Taman Baru Kecamatan Sekotong. 

"Tantangan utama saya dalam perjuangan adalah masih kurangnya persepsi atau rasa persatuan dengan beberap tokoh agama dan tokoh masyarakat terkait isu pencegahan perkawinan usia anak.Selain itu,juga kurang tetlibatnya para lelaki di dalam isu-isu Stop KTPA dan PA,"tutur nya menceritakan hambatan-hambatan menjadi seorang pegiata PPA dan KTPA di Kecamatan Sekotong.

Selain Marlina,terdapat juga Zohratul Maklumat dan Feby Nurbaya.Ketiganya merupakan srikandi pegiat anti kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kecamatan Sekotong.Bagaimana kisahnya,simak tulisan berikutnya.





Belum ada Komentar untuk "Marlina,Pegiat Anti KTPA/PPA Sekotong Yang Pantang Menyerah."

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel