Memaknai Hari Lahir Pancasila Dan Realitas Hari Ini. -->

Memaknai Hari Lahir Pancasila Dan Realitas Hari Ini.

Kim Sekotong
Selasa, 01 Juni 2021


Muhamad Muhajirin,S.Pd.

(Jurnalis KIM Sekotong).


Memaknai hari Kesaktian Pancasila pada setiap tanggal 1 juni,selayaknya adalah berbicara tentang marwah ke Indonesiaan kita itu sendiri. Yakni bangsa Indonesia yang dikenal sebagai bangsa yang beradab dan berbudaya serta religius.


Secara khusus Hari Lahirnya Pancasila,dimaknai sebagai semangat untuk membangun kembali jati diri bangsa dan mengembalikan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai Dasar Negara dan menjadi sumber hukum yang mengatur masyarakat Indonesia dalam sendi-sendi berbangsa dan bernegara.


Dimana pancasila memiliki beragam nilai seperti nilai religi, hukum, sosial sampai etika diatur sedemikian rupa dalam sila sila pancasila itu sendiri, sebagai upaya penyelarasan terhadap identitas kebangsaan kita.


 Menurut Notonegoro, pancasila adalah dasar falsafah negara Indonesi yang diharapkan menjadi pandangan hidup bangsa Indonesia, sebagai dasar pemersatu, lambang persatuan dan kesatuan, serta bagian pertahanan bangsa dan Negara.


Suatu ketika di tahun 2018 silam, saya berbicara dengan seorang turis asal switzerland dan menanyakan hal apa yang paling membuatnya terkesan sehingga sering mengunjungi Indonesia,selain alamnya?.

jawabannya adalah orang orangnya. Orang orang Indonesia ramah dan murah senyum.


Kata tamu tersebut,di Switzerland sendiri, meski berpapasan mereka jarang  bertegur sapa kecuali untuk orang orang yang mereka kenal, itupun ala kadarnya.


Maka secara dasar, Indonesia adalah Negara yang beretika dan beradab. Faktor adab inilah yang menyebabkan kebejatan peristiwa G30 S PKI tidak bisa diterima secara akal kemanusiaan kita.


Alhasil, Hari kesaktian pancasila ini juga selayaknya dijadikan refleksi atas sejarah kelam bangsa kita agar segala hal yang bertentangan dengan ke-Indonesiaan kita patut dilawan, seperti tindakan terror di Papua oleh kelompok bersenjata yang sudah menewaskan banyak orang.


Sayangnya, generasi milenial kian tergerus oleh derasnya arus globalisasi. Pada sebuah tayangan sosial ekperimen di youtube yang menguji kemampuan mereka terhadap pancasila, banyak dari mereka yang  tidak hafal sila sila Pancasila itu sendiri.


 Padahal tidak sedikit dari mereka adalah para pelajar. Jangankan memaknai pancasila, menghafalnya saja tidak. Bagaimana bisa memahami nilai nilainya jika sila saja tidak tahu. Maka tidak heran jika dekadensi adab dan etika serta moral menjadi lebih terpacu ditengah arus globalisasi ini.


 Kasus kasus kekerasan anak terhadap orang tua, perkelahian pelajar, pemerkosaan, pencurian dan pembegalan, dan sebagainya yang sudah banyak melibatkan anak anak muda bahkan usia di bawah 17 tahun. Hal tersebut adalah salah satu bukti nyata yang selayaknya mendapat perlakuan dan perhatian khusus. Setidaknya, menanamkan nilai nilai pancasila sedari  dini dilakukan mulai dari lingkungan keluarga dengan membimbing dan mengawasi anak anak kita di rumah.


 Kenyataannya, justru banyak orang tua yang mendidik anak dengan gadget atau bahkan orang tua lebih sibuk dengan gadget dan bermedsos ria daripada mengurus anak. 


Pancasila juga dinyatakan selaras dengan dengan semua agama yang ada di Indonesia. Agama adalah panduan hidup yang membentuk karakter dan kepribadian orang menjadi baik.Tidak ada ajaran dalam agama yang buruk atau menyuruh penganutnya melakukan tindak kejahatan.


Jikapun ada kasus kasus kejahatan yangmengatas namakan agama, maka itua murni kesalahan interpretasi penganutnya, bukan salah agamanya.


 Maka salah satu alternatif yang bagus adalah dengan pengembangan kurikulum pendidikan agama yang lebih luas lagi agar juga sesuai dengan amanat Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS, pasal 12, ayat (1).


 Kenyataannya pendidikan Agama di sekolah kurang lebih 2 jam saja dalam seminggu. Dengan jumlah seminimum itu, bagaimana bisa pendidikan karakter yang pancasilais bisa terbentuk dengan baik apalagi di tengah situasi covid 19 yang  membuat pembelajaran tatap muka ditiadakan.


Penguatan karakter yang penting dilakukan saat ini adalah dari lingkungan terdekat yakni keluarga, khususnya nilai nilai pancasila yang bertendensi dengan religiuitas.


Peran keluarga dan lingkungan sekitar setidaknya akan memiliki andil dalam menentukan nasib generasi generasi kita ke depan. Semoga hari Kesaktian Pancasila ini bisa mengembalikan semangat kita untuk mengembalikan marwah ke-Indonesiaan kita yang religius, beradab dan bersosial.


Lemer, 01 Juli 2021

Penulis,

Muhamad Muhajirin