iklan

Ke Pulau Lombok Saya Hijrah,Tak Lagi Jadi Pecandu Narkoba.


(True Story :MsAj).

Banyak sekali jenis narkoba,mulai dari Morfin,Heroin,Ganja,Pil ekstasi,
Sabu,dll.Disini saya tidak akan membahas atau mengulas akan jenis narkoba.

Tetapi saya akan bercerita,tentang pengalaman pribadi saya,yang terjerumus dalam lingkaran narkoba. Dan mengalami betapa sulitnya keluar dari lingkaran setan bernama pecandu obat obatan terlarang.

Panggil saja nama saya Aji,lulus dari SMA tahun 1993/1994.Saya berasal Kraksaan,Probolinggo Provinsi Jawa Timur.
Saya merantau ke Jakarta karena diajak oleh teman sekampung. Setibanya untuk pertama kali diJakarta,saya kerja di supermarket bilangan Kebayoran lama Jakarta Selatan.

Setelah bekerja,sesuai cita-cita,saya melanjutkan kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta Jakarta Selatan.
Saya mengambil jurusan Sosial Politik.

Antara bekerja dan kuliah,bisa saya jalani dengan baik.Hingga akhirnya, ada suatu musibah yang menimpa. Dimana saya ditangkap dan dituduh makar,karena ikut suatu acara diskusi .

Tuduhan dan penangkapan itu membuat saya frustasi, marah,kecewa dan dendam.Hingga kemudian,saya bakar semua ijasah saya.
Sejak saat itu,kehidupan saya mulai berantakan di Jakarta.Gara-gara  ditangkap,saya disupermaket dipecat dan di DO.

Setelah itu,akhirnya sayapun mencoba jadi sopir angkot. Pergaulan sopir angkot yang keras membuat saya harus ikut arus. Oleh teman-teman, sering saya ditawari morfin dan heroin.Namun bisa saya tolak.

 Hingga suatu hari,saya ditawari menghisap ganja.
Yah..Waktu itu harganya per amplop cuma 5rb. Mulailah saya coba menghisap ganja. Awal mulanya kepala pusing, mual,badan tidak enak. Namun Lama kelamaaan,baru saya merasakan betapa nikmatnya menghisap ganja.Semua masalah seperti hilang,yang ada hanya perasaan senang.
Bukan itu saja, keberanianpun bertambah,kalau kita memakai ganja.

Lalu ada tawaran untuk antar jemput wanita pegawai bar dan cafe, dibilangan Blok M Jakarta Selatan. Dari wanita-wanita itulah,saya dapat merasakan heroin, morfin dan pil ekstasi.

Namun saya lebih suka ganja. Apalagi dicampur dengan minuman keras. Kehidupan saya semakin tidak terarah. Saya jadi seorang yang bringas dan cepat emosional. Perkelahian demi perkelahian saya lakukan. Minuman keras dan ganja hampir tiap hari.

Tahun 1997, saya mulai berpacaran dengan seorang gadis asal Padang Sumatra Barat.Seorang wanita yang taat beribadah. Sedikit demi sedikit saya coba kurangi pakai morfin, heroin dan ganja. Namun jika sehari saya tidak menghisap ganja, badan lemas, semua terasa sakit.

Pada tahun itu, saya mengenal teman yang mengajak untuk datang ke pengajian. Tapi apa yang saya dapat dari pengajian itu ?.
Yang  saya dapatkan adalah kata Kafir jihad dan hijrah.Penceramahnya selalu mengatakan Indonesia itu negara kafir. Walau bertentangan dengan hati saya, terus ikuti. Dan saya tetap tiap malam menghisap ganja.

Perjalanan cinta saya kandas, karena orang tua pacar tidak merestui. Putuslah hubungan cinta. Dan saya melampiaskan dengan cara mabuk dan menghisap ganja.

Awal 1998, mulailah saya aktif mengikuti suatu organisasi,karena saya ingin berhenti menjadi pemakai ganja.Namun terasa sulit,teramat sulit.

Hingga kejadian kerusuhan 1998 di Jakarta, dimana saya melihat orang mati terbakar,karena menjarah.Dari situlah mulai ada rasa takut yang luar biasa. Saya coba hilangkan lewat menghisap ganja pakai morfin maupun heroin.Namun tetap saja, bayangan kematian itu selalu hadir.

Hingga akhir tahun 1999, saya putuskan untuk keluar dari Jakarta.
Tanpa arah dan tujuan.Saya coba keluar dari Jakarta. Mau pulang ke kampung Kraksaan Probolinggo, keluarga marah  dengan kenakalan saya. Akhirnya saya putuskan untuk mencari saudara misan, seorang anggota polisi yang bertugas di Pulau Lombok.

Saya ingin berhenti menghisap ganja. Didalam perjalanan,ketika saya ingin menghisap ganja,badan lemas kepala pusing badan sakit semua.Walaupun ada uang,namun saya tidak tahu, harus beli dimana. Maka saya lampiaskan dengan minum obat sakit kepala dan merokok.

Tangga l 1 Januari 2000, saya sudah berada di Pulau Lombok.Tinggal di rumah saudara misan.Saya tidak berani mengaku,jika saya kecanduan ganja. Jika rasa ingin  menghisap ganja datang, saya bingung, tak jarang saya pukuli kepala sendiri.
Benar-benar tersiksa

Saya ingin sembuh, satu tahun saya coba berhenti menahan rasa sakit ya ng luar biasa.

Hingga saya berkenalan dengan Ustadz Sukri.Bersama Ustadz Sukri,sering saya diajak ke masjid.Kemudian pada tahun 2002, saya menikah dengan seorang wanita dari Lombok.

Sejak menikah itulah saya mulai berubah, dan bisa sembuh total dari mengisap ganja, maupun minuman keras.

Ternyata efek dari Narkoba bukan saja merusak pikiran, badanpun tersiksa. Dan yang paling jelas terlihat adalah wajah menjadi kusam,tampak jauh lebih tua dari umur sebenarnya.

Dan gigi pun habis rontok di buatnya.
Semoga cerita saya ini bisa menjadi sebuah renungan,untuk tidak mencoba-coba mendekati narkoba.
Karena hidup akan lebih bermakna jika jauh dari obat-obatan terlarang.

Di tulis di : Lombok.

Belum ada Komentar untuk "Ke Pulau Lombok Saya Hijrah,Tak Lagi Jadi Pecandu Narkoba."

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel